Biografi Oki Setiana Dewi

Siapa yang tak kenal dengan Oki Setiana Dewi, artis cantik yang menutup aurat ini begitu mempesona karena selain tak membuka auratnya layaknya pesinetron lain tapi juga begitu cerdas. Akhir-akhir ini Oki (panggilan akrab Oki Setiana Dewi) sedang banyak diberitakan media karena sedang menjalani persiapan pernikahan. Berikut ini Biografi Oki Setiana Dewi.

Oki Setiana Dewi lahir di Batam pada tanggal 13 Januari 1989. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang kesemuanya perempuan. Orang tua Oki bernama Sulyanto dan Yunifah Lismawati yang merupakan pasangan suami istri berdarah Jawa – Palembang.

Sejak tahun 2005, keluarga Oki hijrah dan menetap di Jawa tepatnya di Depok. Oki sendiri menyelesaikan SMA nya juga di SMAN1 Depok. Oki termasuk siswa yang pintar hingga bisa diterima di Universitas Indonesia.

Berkarir di Perfilman dan Berjilbab

Nama Oki Setiana Dewi mulai berkibar ketika dirinya memerankan Anna dalam film Ketika Cinta Bertasbih dilanjutkan dengan sinetronnya. Yang membuat artis wanita ini berbeda selain kecantikannya yang alami dan mempesona adalah jilbab syar’i nya yang menutup seluruh aurat. Oki tak seperti artis lainnya yang menaikkan popularitas dengan menonjolkan kecantikan dan aurat tubuh.

Oki juga selalu kelihatan anggun dan smart serta religius. Sebelum berjilbab, Oki sempat bermain di beberapa FTV namun kemudian berhenti lantaran produser tak mengijinkan pemainnya pakai jilbab. Oki pun memilih berhenti daripada menanggalkan jilbabnya. Namun itu semua telah diganti oleh Allah dengan menjadikan Oki sebagai pemain utama wanita dalam film dan serial KCB.

Kisah Oki ketika memutuskan memakai jilbab adalah ketika sang bunda terserang sakit yang kata dokter sudah sulit disembuhkan. Mendengar itu Oki jadi sangat sedih. Ia pun lalu memutuskan untuk berjilbab agar bisa lebih dekat dengan Allah dan bisa lebi khusyuk mendoakan kedua orang tuanya terutama bundanya. Sejak saat itulah Oki memakai jilbab.

Pendidikan dan Prestasi Lain

Setelah meluluskan kuliahnya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Oki memutuskan untuk memperdalam ilmu ke-Islamannya dengan menjadi santri di program Tahfidzul Qur’an di Rumah Quran Depok. Ia juga mempelajari Bahasa Arab di Universitas Umm Al Qura, Makkah. Oki juga memperdalam ilmunya dengan mengambil program pasca sarjana di Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Ketika SMA, Oki selalu langganan menjadi juara kelas. Ia juga sering mewakili sekolahnya dalam berbagai perlombaan akademis dan non akademis.

Prestasi di Film

Dalam hal perfilm-an, tak diragukan lagi prestasi Oki. Banyak gelar telah disabetnya. Berikut ini rentetan daftar prestasi Oki di perfilm-an Indonesia :

·         Aktis Wanita Terbaik versi Islamic Movie days
·         Aktris Pendatang Baru wanita terbaik
·         Aktris pendatang baru wanita terfavorit untuk film Ketika Cinta Bertasbih di Indonesia Movie Awards 2010.
Oki Setiana Dewi juga telah membintangi banyak film dan sinetron yaitu :
·         Ketika Cinta Bertasbih 1&2 (2010)
·         Ketika Cinta Bertasbih Spesial Ramadhan (2010)
·         Ketika Cinta Bertasbih Meraih ridho Illahi (2011)
·         Dari Sujud ke Sujud (2011)

Oki juga berpartisipasi dalam mengisi soundtrack untuk film dan sinetron Dalam Mihrab Cinta (2011) dan Dari Sujud ke Sujud (2011).

Akting dan mengisi sountrack film telah dilakoninya. Saat ini Oki juga terkenal akan kepiawaiannya menulis buku. Berikut ini buku-buku best seller Oki Setianan Dewi yang juga telah dibedah di luar negeri (Malaysia, Singapore, Makkah dan Jeddah):
·         Melukis Pelangi catatan hati Oki Setiana Dewi (2011)
·         Sejuta Pelangi pernik cinta Oki Setiana Dewi (2012)
·         Cahaya di Atas Cahaya(2012)
·  Hijab Im in Love (2013) merupakan karya terbarunya yang paling berbeda karena OSD mengeluarkan pula album perdananya dengan judul yang sama. Album Hijab Im in Love (2013) ini dinyanyikan bersama adiknya, Shindy.
Kegiatan Lain
Oki juga sering mengisi seminar kemuslimahan dan kepemudaan. Oki juga meluangkan waktunya mengajar ngaji di TPA untuk anak-anak dan ibu-ibu. Oki juga memiliki komunitas sendiri yaitu Sahabat Oki Setiana Dewi atau SOSD yang telah memiliki member beribu orang baik itu di Indonesia dan juga di luar negeri. Bersama komunitas tersebut, Oki menggalakkan kegiatan DMKM yaitu Dari Masjid ke Masjid dan juga program “Yuk Mengaji, Al Qur’an di Hati” dimana pelaksanaannya juga menyentuh lingkungan Lapas Wanita Tangerang.
Kecerdasan dan prestasi Oki juga diakui ketika dirinya ditunjuk sebagai duta untuk Anak-anak Rumah Autis (2012) dan duta Internet Sehat dan Aman oleh kementrian Komunikasi dan Informatika 2010.
Oki Setiana Dewi Menikah

Baru-baru ini santer dikabarkan bahwa Oki Setianan Dewi akan menikah di bulan Januari 2014 mendatang dengan seorang pengusaha Ory Vitrio (Rio) yang telah bertaaruf sejak September 2013 silam. Rencananya pernikahan akan digelar 12 Januari 2013.

Yang membuat lebih terpesona terhadap sosok Oki adalah dirinya tidak mau melakukan foton pre wedding dengan calon suami karena belum menjadi muhrimnya sehingga tak boleh berdekatan dulu apalagi berpegangan tangan layaknya foto pre wedding lainnya. Oki mengatakan bahwa ia akan melakukan foto pasca wedding saja. "Foto nanti pasca wedding. Insya Allah kan tanggal 12 menikah, 13 aku ultah yang ke-25 tahun, kalo pasca kan udah boleh pegangan. Kalo sekarang kan belum boleh," tegasnya.

Biografi Jendral Abdul Haris Nasution

Jendral A.H Nasution
Jendral A.H Nasution atau Jendral Abdul Haris Nasution adalah salah satu Jendral Besar yang ikut serta dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah salah satu saksi sejarah yang berhasil menyaksikan sendiri kemerdekaan Indonesia, kepemimpinan Orde Lama (Presiden Soekarno), kepemimpinan Orde Baru (Era Soeharto) dan masa reformasi.


Jendral A.H Nasution (sering disapa Pak Nas) dilahirkan pada tanggal 3 Desember 1918 di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Kesederhanaan, idealisme dan kekuatan visinya serta khusyuknya dalam beribadah tentulah dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya. A.H Nasution adalah anak dari keluarga petani yang bersahaja dan taat beragama. Beliau adalah anak kedua dari tujuh bersaudara.

Ayahnya adalah seorang aktivis Sarekat Islam di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Nasution kecil sangat gemar membaca. Buku-buku seperti biografi tokoh dunia, sejarah dan kisah Nabi Muhammad serta perang kemerdekaan Belanda dan Perancis telah mengisi hari-harinya.

Setelah lulus AMS-B (setingkat SMA PASPAL) di tahun 1938, Nasution bekerja sebagai guru di Bengkulu dan Palembang. Selepas itu, Nasution pun bergabung ke dalam Akademi Militer dan sempat terhenti pendiidkannya karena invasi Jepang pada tahun 1942. Saat itu, Belanda yang telah kuat armada militernya dapat diberangus oleh Jepang karena tak mendapat dukungan dari rakyat. Sedangkan Jepang yang barusan masuk ke Indonesia dengan mudahnya mengalahkan Belanda. Ini menjadi pelajaran bagi Nasution bahwa dukungan rakyat sangatlah penting bagi militer.

Saat perang Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), TNI bahu membahu bersama rakyat melakukan perang gerilya atau disebut perang rakyat. Dan TNI bersama rakyat mendapat kemenangan berhasil mengusir penjajah Belanda yang mau menjajah Indonesia kembali.  Saat itu A.H Nasution diberi wewenang memimpin Divisi Siliwangi. Pak Nas menarik kesimpulan berharga lagi bahwa karena rakyat mendukung sepenuhnya maka perang bisa dimenangkan oleh TNI bersama rakyat. Hal ini kemudian diterapkan dalam perang revolusi Kemerdekaan II dimana beliau saat itu menjadi Panglima Komando Jawa (1948-1949).

Beliau adalah jendral idealis yang sangat tekun beribadah. Beliau lebih memilih hidup sederhana ketimbang menumpuk harta walau itu bisa saja dilakukannya mengingat posisinya sebagai orang nomor satu di ABRI. Rumah beliau hingga pensiun tetaplah rumah sederhana yang tak pernah direnovasi. Bahkan entah karena faktor apa, jaringan PDAM rumahnya disabotase oleh orang yang tak menyukainya sehingga beliau harus membuat sumur sendiri guna mendapatkan air bersih. Ternyata walau beliau orang yang sangat jujur dan lurus juga masih ada saja yang tak menyukainya (lha wong Nabi Muhammad saja yang sudah dijamin Allah akhlaknya juga masih memiliki musuh, tak ada yang sempurna di dunia ini).

Walau sangat sibuk memimpin TNI/ABRI, Pak Nasution juga manusia biasa yang pernah jatuh cinta. Pak Nas memiliki hobi bermain tennis. Ketika bermain tennis, beliau berjumpa dengan seorang gadis puteri kedua dari R.P Gondokusumo pengurus partain Indonesia Raya (Parindra) yang bernama Johana Sunarti. Pak Nas akhirnya menikahinya dan dikaruniai dua orang puteri yang cantik-cantik, salah satunya adalah Ade Irma Suryani yang ikut gugur dalam peristiwa G 30 S/PKI.

Jadi Target Pembunuhan, Dikucilkan Orba dan Dipersalahkan Reformasi
Jika kita menengok sejarah, Pak Nas adalah salah satu target pembantaian pemimpin AD oleh PKI namun lolos dan sebagai gantinya adalah nyawa puteri kesayangannya, Ade Irma Suryani yang melayang terterjang peluru PKI.

Pak Nas pernah dituduh sebagai musuh poitik Orba dan dikucilkan padahal beliau adalah salah satu tonggak lahirnya Orba. Pak Nas lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang agendanya memberhentikan Presiden Soekarno sebagai Presiden RI pada 1967.

Pak Nasution adalah jendral yang berhati lembut. Beliau dua kali menitikkan air mata, pertama ketika melepas jenazah ke tujuh Pahlawan Revolusi yang dibunuh PKI secara keji . Dan yang kedua adalah ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan.

Beliau juga adalah penggagas Dwi Fungsi ABRI, namun beliau merasa bersalah ketika pelaksanaan dwi fungsi ABRI di selewengkan guna mengekalkan kepemimpinan seseorang saja. Bahkan konsep yang digagas Pak Nas ini akhirnya dihujat habis-habisan saat reformasi. Pak Nas merasa turut bersalah dan sedih akan hal itu. Bukan itu maksud dari gagasannya. Beliau juga tak berniat menjadikan ABRI sebagai alat poitik kekuasaan.

Usut punya usust yang menjadikannya dimusuhi penguasa Orba adalah karena Pak Nas adalah salah satu penandatangan petisis 50. Namun Pak Nas mengakui peran serta Soeharto dalam memimpin pasukan Wehrkreise melakukan serngan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta hingga berhasil. Walau Orba mengucilkannya, namun pada akhir hayatnya, Pak Nas menerima gelar Jendral Besar dari pemerintah. Mungkin gelar tersebut sebagai wujud terima kasih Soeharto pada jasa Pak Nas. Bagaimanapun juga Pak Nasution juga telah banyak berjasa dalam melahirkan Orba.

Pak Nas juga berjasa dalam meletakkan dasar perang gerilya dalam melawan penjajah Belanda. Segala pengajaran mengenai perang gerilya beliau tuangkan dalam sebuah buku  yang berjudul Strategy of Guerrilla Warfare dimana buku tersebut telah disadur ke beberapa bahasa asing serta menjadi buku wajib militer di sekolah-sekolah elite militer di berbagai negara. Termasuk sekolah elite militer di Amerika, West Point.

Menulis Buku
Ketika dirinya mulai tersingkir dari dunia politik, yaitu ketika selesai menjadi pemimpin sidang MPRS tahun 1972, beliau yang pernah menduduki posisi kunci utama TNI selama 13 tahun ini tak lantas menghiba-hiba meminta kursi politik. Walau sebenarnya kharisma dan pengaruh beliau masih sangat besar dan bisa saja beliau menyususn siasat untuk membuat dirinya kembali bertengger di kancah perpoltikan namun beliau tak melakukan itu. Beliau cukup tahu diri posisinya. Dan beliau memutuskan menyibukkan diri menulis buku memoar.

 Pada 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan A.H Nasution telah selesai ditulisnya dan telah beredar di pasaran. Lima memoar ini masing-masing berjudul Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Selain memoar, beliau juga menulis buku yang lain yang berjudul Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).

Jendral A.H Nasution V.S Presiden Soekarno
Jendral A.H Nasution sangat mengagumi Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno. Menurut beliau, Bung Karno adalah pemimpin yang sangat kharismatik. Walau begitu,, ketika Pak Nas memimpin TNI, beliau juga kerap berseberangan dengan sang proklamator tersebut. Namun kemudian akur kembali. Sebagai contoh, ketika terjadi pergolakan di dalam Angkatan Darat tahun 1952, Pak Nas menilai sang Presiden terlalu ikut campur. Kemudian pada “Peristiwa 17 Oktober”, ketika itu Jendral A.H Nasution ikut andil dalam pembubaran DPRS dan menuntut dibentuknya DPR baru, sehingga diberhentikan oleh presiden Soekarno.

Sempat tak akur beberapa lama, pada tahun 1955 Bung karno rukun kembali dengan Pak Nas dan mengangkat beliau menjadi ketua KSAD. Yaitu setelah adanya pemberontakann PRRI/Permesta dimana Pak Nas dipercaya sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja.

Ketika selesai perang pembebasan Irian Barat, kedua tokoh nasional ini terjadi cek-cok lagi dikarenakan Bung Karno memberi kesempatan pada PKI yang nyata-nyata berhalauan komunis untuk berkembang di INdonesia dimana Pak Nas sangat bertentangan engan prinsip PKI.

Itulah kisah putus-nyambung antara Ir soekarno dan Jendral A.H Nasution. Apapun yang terjadi, Pak Nas tetaplah mengagumi sosok Ir Soekarno, jika ditanya alasannya beliau menjawab “ Bung Karno sudah keluar masuk penjara gara-gara memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sebelum saya faham apa itu perjuangan kemerdekaan.”

Wafatnya Jendral A.H Nasution
Semenjak kecil, Jendral A.H Nasution sudah biasa hidup sederhana. Hal inipun beliau terapkan hingga akhir hayatnya. Beliau meninggal di usia 82 tahun tepatnya 6 September 2000 (bulan yang sama ketika beliau menjadi target pembunuhan G 30S/PKI namun meleset). Beliau tidak meninggalkan materi berlimpah. Hanya idealisme dan kekayaan pengalaman dalam berjuang saja yang beliau wariskan melalui buku-bukunya.

Rumah tinggal beliau bersama keluarga besarnya yang terletak di jalan Teuku Umar Jakarta tampak begitu sederhana dan tak pernah tersentuh renovasi, sangat jauh sekali dari standar rumah seorang perwira tinggi TNI. Beliau juga telah kehilangan anak perempuannya yang cantik, Ade Irma, terkena terjangan peluru PKI. Namun sebagai gantinya beliau dikaruniai umur panjang hingga bisa melihat sendiri pergantian kekuasaan diantara tokoh-tokoh yang beliau kenal juga (kemerdekaan Indonesia, Orde Lama – Soekarno, Orde Baru – Soeharto dan Reformasi).

Biodata Jendral Abdul Haris Nasution
Nama: Abdul Haris Nasution
Pangkat: Jenderal Bintang Lima
Lahir : Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal: Jakarta, 6 September 2000
Agama : Islam
Istri: Ny Johanna Sunarti

Pendidikan :
= HIS, Yogyakarta (1932)
= HIK, Yogyakarta (1935)
= AMS Bagian B, Jakarta (1938)
= Akademi Militer, Bandung (1942)
= Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
= Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
= Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
= Universitas Mindanao, Filipina (1971)

Karir :
= Guru di Bengkulu (1938)
= Guru di Palembang (1939-1940)
= Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
= Dan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
= Dan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
= Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
= Panglima Komando Jawa (1948-1949)
= KSAD (1949-1952)
= KSAD (1955-1962)
= Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
= Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
= Ketua MPRS (1966-1972)

Alamat Rumah :
Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat Telp: 349080

Biografi Amien Rais

Biografi Online ~ Amien Rais adalah salah satu tokoh Nasional yang berjasa dalam membawa gerakan Reformasi 1998. Amien Rais beserta Megawati Soekarnoputri dan KH Abdurrahman Wahid adalah tokoh reformasi yang mengawal jalannya reformasi 1998 hingga bisa menumbangkan Reim Orde Baru. Berikut ini Biografi Amien Rais.

Lahir dan Masa Kecil

Amien Rais dilahirkan pada tanggal 26 April 1944 di Solo dari pasangan suami istri Suhud Rais dan Sudalmiyah. Amien Rais adalah anak kedua dari enam bersaudara yaitu adalahFatimah, dan empat adiknya adalah Abdul Rozak, Achmad Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Aminah.

Sejak kecil Amien Rais dididik pendidikan agama secara ketat oleh sang ibu. Keluarga Amien Rais adalah keluarga yang  taat beribadah. Ayahnya adalah seorang guru sedang ibunya adalah guru di sekolah Kepandaian Putri (SGKP ) Negeri dan Sekolah Bidan Aisyiyah Surakarta. Keluarga Amien Rais memang cenderung ke Muhammadiyah. Kakeknya, Wiryo Soedarmo adalah salah satu pendiri Muhammadiyah di Gembong, Jawa Tengah.

Didikan Ibu yang Disisplin

Sudalmiyah adalah tipe orang yang sungguh – sungguh dalam melakukan segala hal termasuk dalam profesinya sebgai guru, beliau benar-benar total menjalaninya. Karena totalitasnya di dunia pendidikan ini maka pada 1985 gelar Ibu Teladan se-Jawa Tengah disematkan padanya. Sudalmiyah juga suka berorganisasi, Beliau sangat aktif dalam partai politik Masyumi ketika masih jaya-jayanya.

Ketotalan Sudalmiyah juga tercermin dalam cara mendidik anak-anaknya. Sudalmiyah sangat menerapkan disiplin pada anak-anaknya. Sebagai contoh ketika bangun pagi. Amien Rais kecil sudah dilatih untuk bangun tiap jam 4 pagi. Agar tidak terlambat bangun maka sang ibu selalu emasang weker. Dan jika sudah bangun maka Amien disuruh untuk mengatakan “ashalatu khairum minan naum” dengan suara keras sehingga terdengar sang ibu, kemudian mereka semua harus siap berjamaah subuh. Biasanya Sudalmiyah akan memberi bonus 50 sen jika sang anak berhasil bangun tepat waktu. Uang tersebut dimasukkan ke celengan oleh Amien dan dibuka ketika lebaran untuk membeli baju lebaran.

Sekalipun ibu Amien Rais orang yang tegas namun beliau tak memaksa kehendak anaknya dalam memilih karier. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh dan berkembang alamiah sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Ibunya hanya berpesan bahwa “Hakikat hidup adalah ibadah”. Pesan inilah yang selalu diingat oleh Amien Rais hingga tua. Segala yang dilakukan haruslah diniatkan untuk ibadah biar tak sia-sia. Makn untuk ibadah, tidur ibadah, kerja juga niat ibadah.

Bagi Amien Rais, ibu adalah orang yang sangat mempengaruhi kehidupannya, membentuk karakternya. Hingga jika Amien mengalami masalah yang sulit dipecahkan maka ia selalu berkonsultasi ke sang ibu di Solo. Setiap Idul Fitri, rumah sang ibunda di Solo selalu ramai dikunjungi anak-anaknya dan cucu-cucunya termasuk Amien Rais.

Ketika kecil, Amien Rais bercita-cita ingin menjadi Walikota. Hal ini dikarenakan kekagumann Amien Rais pada Muhammad Saleh sang Walikota Solo yang begitu taat menjalankan agama serta masih aktif memberikan tauziah di masjid-masjid walau sudah sibuk dengan tugas kewalikotaan.

Akan tetapi ketika SMA, Amien Rais ingin menjadi duta besar. Hingga beliau memilih Hubingan Internasional ketika kuliah. Amien berprinsip bahwa “Hidup untuk mencari Ridha Allah”. Beliau sellau berpegang bahwa untuk menggapai ridah Illahi maka beliau harus menjadi orang yang apa adanya. “You are what you are”.

Amien Rais Menikah

Pada 9 Februari 1969, Amien Rais menikahi seorang gadis yang bernamaKusnasriyati Sri Rahayu. Gadis itu juga adalah teman kecilnya dahulu. Namun selama menjalani pernikahan mereka sulit dikaruniai anak hingga usia pernikahan yang ke 10. Mereka berdua sudah mencoba berbagai jalan namun selalu belum memperoleh hasil.

Hingga suatu saat mereka berdua diberi kesempatan untuk beribadah haji ke tanah suci. Amien Rais dan sang istri begitu khusyu beribadah dan berdoa di depan Baitullah. Setelah pulang dari Mekkah. Dua bulan kemudian Kusnasriyati positif hamil. Sejak saat itu setiap dua tahun mereka dikaruniai anak hingga lima orang yaitu Ahmad Hanafi, kemudianHanum Salsabiela, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan yang terakhirAhmad Baihaqy.

Istri Amien Rais adalah ibu rumah tangga yang begitu total menjaga anak-anaknya. Untuk lebih dekat dengan dunia anak-anak, Kusnasriyati mendirikan Taman Kanak Kanak. Awalnya itu hanyalah TK kecil namun kemudian berkembang menjadi TK yang lebih maju. Kusnasriyati juga membuka kedai sederhana yang kemudian sangat diminati para mahasiswa.

Bagi Amien Rais, istrinya adalah wanita luar biasa. Pernah suatu ketika beliau menerima tamu wartawan dari Jepang. Amien Rais begitu antusias menceritakan perihal istrinya, “Istri saya mungkin merupakan wanita terbaik se-Asia Tenggara.” Begitulah Kusnasriyati dimata Amien Rais.

Berorganisasi dan Karir Politik

Ketika sekolah Amien Rais sangat aktif di kegiatan Hizbul Wathon atau Pramuka. Disinilah Amien Rais mengenal apa itu kepemimpinan dan kebersamaan dalam satu visi dan misi atau yang disebut berorganisasi. Ketika menjadi mahasiswa, ia termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. 

Ia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam [HMI], dan pernah di¬percaya untuk mendu¬duki jabatan sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta. Amien Rais juga suka menulis di kolom surat kabar yaitu tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia.  Karena ketajaman dalam menulis ini Amien Rais pernah menerima Zainal Zakie Award, sebuah penghargaan bagi mereka yang bagus artikelnya.

Sejak TK hingga SMA, Amien Rais selalu memilih sekolah Muhammadiyah. Jika ketika itu sudah berdiri Universitas Muhammadiyah maka mungkin Amien Rais memilih kuliah disitu juga. Amien Rais lalu memilih UGM untuk kuuliahnya, namun sang ibu menginginkannya belajar di Kairo. Untuk menghibur hati ibunya Amien Rais berkuliah ganda di UGM dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketika itu belum muncul larangan kuliah pararel.

Setelah lulus S1, Amien Rais melanjutkan studinya ke University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat. Amien Rais kemudiann meneruskan S3 di University of Chicago untuk meraih gelar doktor. Dalam kesehariannya, Amien Rais memilih mengabdi di Almamaternya yaitu UGM menjadi dosen. 

Penggerak Reformasi

Ketika Indonesia mengalami pergolakan mulai tahun 1997, Amien Rais tidak tinggal diam. Beliau juga aktif menyuarakan apresiasi rakyat yang kemudian mengantarkannya menjadi aktifis yang menggerakkan roda reformasi pada tahun 1998 bersama Megawati, Sri Sultan HBX dan Gus Dur.

Karena jasa beliau dan Megawati, Sri Sultan HBXserta Gus Dur inilah kemudian tiga tokoh ini dinobatkan sebagai Tokoh Reformasi 1998. Amien Rais sendiri disebut sebagai Bapak Reformasi.

Setelah Soeharto tumbang dan tuntutan reformasi akan pergantian kepemimpinan menuai sukses, Amien Rais kemudian membentuk sebuah partai yang disebut Partai Amanat Nasional atau PAN. Pada pemilu 1999, Amien Rais terpilih sebagai Ketua MPR. Posisi ini sangatlah strategis dengan segala upaya, Amien Rais sangat pandai dalam “bermain” sehingga ketika dipimpinnya MPR benar-benar bisa mengemban amanat rakyat.

Pada 2006  Amien turut mendukung evaluasi kontrak karya terhadap PT.Freeport. Setelah terjadi peristiwa Abepura, Kepala Badan  Intelejen Negara (BIN) Syamsir Siregar secara tidak langsung menuding Amien Rais dan LSM terlibat dibalik peristiwa ini. Tapi hal ini kemudian dibantah kembali oleh Syamsir Siregar.

Peran Amien Rais dalam kegiatan politik di Indonesia sangatlah besar. Indonesia sangatlah beruntung memiliki sosok cendekiawan seperti beliau. Semoga dikemudian hari muncul “Amien Rais Amien Rais” yang baru dan jauh lebih baik untuk kemajuan bangsa ini.

Biografi Mahfud MD – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi

Biografi Online ~ Mahfud MD adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang lumayan berhasil. Sebelum dijabat oleh beliau lembaga Mahkamah Konstitusi seakan hanya pelengkap dari lembaga negara saja tanpa pernah terdengar gaungnya. Bahkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut sudah luntur.

Hingga diangkatnya Mahfud MD sebagai Ketuanya maka ada banyak perubahan besar di lembaga tersebut. Yang paling mencolok adalah kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut makin meningkat. Sosok Mahfud selalu terkait dengan MK. 

Berikut ini akan dibahas Biografi Mahfud MD.

Lahir dan Masa Kecil
Mahfud adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Mahmodin dan ibunya bernama Siti Khadijah. Mahfud bukanlah anak keluarga kaya. Ayahnya, Mahmodin atau kerap disapa Pak Emmo adalah pegawai negeri rendahan yang sering berpindah-pindah tugas.

Mahfud MD dilahirkan di Sampang, Madura, Jawa Timur pada tanggal 13 Mei 1957. Masa kecil Mahfud hingga sekolah menengah atas banyak dilewatkan di Madura dan Jawa Timur. Hingga ketika kuliah dirinya memilih Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Masa sekolah Mahfud disibukkan dengan kegiatan belajar. Ketika pagi hingga sore, Mahfud harus belajar di madrasah untuk mempelajari ilmu umum dan agama. Ketika sore hingga subuh, Mahfud menghabiskan waktunya untuk mmeperdalam agama di surau atau masjid.

Praktislah Mahfud lumayan menguasai ilmu agama dengan baik dan juga ilmu umum terutama yang berkenaan dengan hukum.

Setamat kuliah Mahfud kemudian menjadi tenaga pengajar dan juga menjadi Guru Besar Hukum Tata Negara di almamaternya. Sembari itu Mahfud juga mengambil kuliah lagi S2 di UGM dan mengantongi gelar doktor dari sana pada tahun 1993. Mahfud juga berprofesi sebagai Hakim Konstitusi.

Asal Muasal inisial MD Dibelakang nama Mahfud
Inisial MD dibelakang nama Mahmud bukanlah gelar akademis. Ketika di sekolah tingkat pertama atau setara SMP, di kelas ada 3 anak bernama Mahfud. Untuk membedakannya sang guru pada awalnya memberi inisial A, B, dan C namun sepertinya inisial itu kayak plat nomor becak. Akhirnya inisial tersebut dirubah dengan mengikutkan nama ayahnya dibelakang masing masing anak. Kebetulan nama ayahnya berbeda. Mahfud sendiri kemudian diberi inisial Mahfud Mahmodin dan sering disingkat Mahfud MD.

Kata "Mahfud" sendiri berarti "Yang Terjaga" maksudnya adalah terjaga dari hal-hal buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Sejak saat itu setiap menulis nama,  Mahfud selalu menyertakan inisial nama ayahnya “MD”. Sewaktu penulisan ijazah, sang guru lupa untuk mencoret nama MD dan terbawa hingga penulisan ijaah SMA, Perguruan Tinggi hingga S2 dan hingga sekarang. Sepertinya memang inisial MD itu membawa berkah.

Karir Mahfud MD

Track record Mahfud yang lumayan bagus membuat dirinya akhirnya diangkat sebagai Menteri Pertahanan dan kemudian menjadi Menteri Hukum dan HAM.

Karir Mahfud setelah itu terus naik dengan ditunjuknya dirinya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi 20018 hingga 2011. Selama menjabat sebagai MK, banyak sekali gebrakan dilakukannya di intern lembaga MK sehingga lebih bersih, transparan dan profesional.

Lembaga MK yang dahulunya hanya dianggap boneka penguasa oleh rakyat, ketika dipegang oleh Mahfud bisa menjadi lembaga yang cukup dipercaya oleh masyarakat hingga Mahfud selesai menjabat pada 2011. Ketua mk kemudian dipegang oleh Akil Mochtar.

Namun sayang sekali Akil Mochtar ternyata tak sejujur Mahfud MD sehingga hanya beberapa bulan menjabat sebagai ketua MK sudah tersandung kasus korupsi. Masyarakat pun kembali tak percaya pada MK. Mahfud pun agak kecewa pada penggantinya karena tak bisa memegang amanat rakyat dengan baik dan Akil Mochtar pun tak bisa mempertahankan kredibilitas MK dimata masyarakat yang telah dibersihkan oleh Mahfud MD.

Keluarga Mahfud MD
Mahfud MD menikah dengan seorang temannya sesama Mahasiswa Hukum UII dan juga sesama aktivis kampus yaitu Zaizatun Nihayati, SH. Mereka menikah pada 1982 dan kemudian dikaruniai tiga orang anak yaitu :
  1. Mohammad Ikhwan Zein, laki-laki kelahiran 15 Maret 1984, Alumni Fakultas Kedokteran UGM.
  2. Vina Amalia, perempuan kelahiran 15 Juli 1989.
  3. Royhan Akbar, laki-laki kelahiran 7 Februari 1991.
Istri Mahfud adalah seorang guru SMA. Namun ketika Mahfud ditunjuk sebagai Menteri dan diharuskan hijrah ke Jakarta maka sang istri harus melepas pekerjaannya sebagai guru dan mengikuti sang suami ke Jakarta.

Dicalonkan Menjadi Capres 2014

Kualitas Mahfud yang bersih dari korupsi serta profesionalismenya dalam menjalankan amanat membuat masyarakat menjadi segan dan hormat pada Mahfud. Hal ini membuat Partai Demokrat ingin meminang Mahfud sebagai Capres dari Partai Demokrat untuk pemilu 2014 mendatang.

Akan tetapi Mahfud menolak dengan alasan mendengarkan nasihat ulama yang memberi arahan pada Mahfud agar dicalonkan melalui PKB saja.

Melihat kredibilitas Mahfud MD memang cocok dicalonkan sebagai Capres 2014 namun kita tunggu saja beliau bersedia menerima pinangan dari partai mana. Yuk diikutin beritanya....

Berikut ini adalah Biodata Mahfud MD :
Nama : Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U.
Tempat Lahir : Sampang , Madura - Jawa Timur , Indonesia.
Tanggal Lahir : 13 Mei 1957.
Almamater : Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta dan UGM
Pekerjaan : Akademisi dan Hakim Konstitusi
Agama : Islam
: Zaizatun Nihayati, SH
Istri
Anak : Mohammad Ikhwan Zein
Vina Amalia
Royhan Akbar
Ayah : Mahmodin
Ibu : Siti Khadijah



Pendidikan Mahfud MD
  • Madrasah Ibtidaiyah di Pondok Pesantren al Mardhiyyah, Waru, Pamekasan, Madura
  • SD Negeri Waru, Pamekasan, Madura
  • Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Pamekasan, Madura
  • Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta
  • Sarjana Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
  • Sarjana Sastra Arab, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  • Magister Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
  • Doktor Ilmu Hukum Tata Negara, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  • Profesor Hukum Tata Negara, Universitas Islam Indonesia, Yogyakara
Pekerjaan Mahfud MD
  • Dosen Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (1984-Sekarang)
  • Sekretaris Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (1986-1988)
  • Pembantu Dekan II Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (1988-1980)
  • Direktur Karyasiswa, Universitas Islam Indonesia (1991-1993)
  • Pembantu Rektor I Universitas Islam Indonesia (1994-2000)
  • Direktur Pascasarjana Universitas Islam Indonesia (1996-2000)
  • Anggota Panelis dan Asesor, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (1997-1999)
  • Plt. Staf Ahli dan Deputi Menteri Negara Urusan HAM (1999-2000)
  • Menteri Pertahanan Republik Indonesia, kemudian Menteri Kehakiman (2000-2001)
  • Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (2002-2005)
  • Rektor Universitas Islam Kadiri (2003-2006)
  • Anggota DPR RI, duduk di Komisi III dan Wakil Ketua Badan Legislatif (2004-2008)
  • Anggota Tim Konsultan Ahli pada Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum HAM RI (sekarang)
  • Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (2008 – 2013)
  • Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat IKA UII (2010-Sekarang)
Organisasi Yang Diikuti Mahfud MD
  • Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
  • Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (2010-Sekarang)
  • Dewan Pengasuh Forum Keluarga Madura Yogyakarta (2007-Sekarang)
Publikasi yang berkenaan dengan Mahfud MD
  • GUSDUR Islam, Politik dan Kebangsaan (Penerbit LKIS : 2010)
  • On The Record, Mahfud MD di balik Putusan Mahkamah Konstitusi (Penerbit PT Raja Grafindo Persada : 2010)
  • Mahfud MD di Mahkamah Konstitusi dalam Liputan Pers (Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi : 2010)
  • Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu (Penerbit PT. Raja Grafindo Persada : 2009)
  • Politik Hukum di Indonesia (Penerbit PT. Raja Grafindo Persada : 2009)
  • Dasar-Dasar dan Struktur Ke Tatanegaraan Indonesia (Penerbit Rineka Cipta : 2001)
  • Potret Akademisi dan Politisi (Penerbit UII Press : 2006)
  • Setahun Bersama Gus Dur, Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit (Penerbit LP3ES : 2003)
  • Membangun politik hukum, menegakkan konstitusi (Penerbit LP3ES : 2006)

Back to top