Biografi Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid

Gus Dur
 Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah seorang ulama NU yang sangat disegani. Beliau juga pernah menjabat sebagai Presiden RI ke 4 menggantikan Presiden BJ Habibie.

Gus Dur dilahirkan di Denanyar, Jombang-Jawa Timur pada tanggal 4 Sya’ban tepatnya 7 September 1940. Gus Dur terlahir dengan nama Abdurrahman Addakhil, yang berarti Sang Penakluk. Namun kemudian nama beliau diganti menjadi Abdurrahman Wahid. Sedangkan nama panggilannya adalah Gus Dur. Gus artinya mas atau abang.

Gus Dur adalah anak pertama dari enam bersaudara. Beliau terlahir dari kalangan kyai. Kakek dari ayahnya adalah KH Hasyim Asyari seorang ulama terkemuka dan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia dan Kakek dari ibunya adalah KH Bisri Syansuri.


Ayah Gus Dur adalah KH Wahid Hasyim adalah menteri agama pada tahun 1949 sedangkan ibunya bernama Hj. Sholehah. Gus Dur sendiri masih berdarah Tionghoa, beliau adalah keturunan Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V. Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.

Saudara Gus Dur yang lain bernama Salahuddin Wahid dan Lily Wahid. Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak perempuan yang bernama Alisa, Yenny, Anita dan Inayah.
Gus Dur dibesarkan di lingkungan pesantren yang sarat akan nilai-nilai agama Islam, beliau sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Ahzar Mesir dan Universitas Baghdad di Irak.

Gus Dur sangat aktif dalam berorganisasi. Sejak masih kuliah ia sudah terlibat denagn organisasi seperti Asosiasi Pelajar Indonesia dan aktif menulis di majalah yang diterbitkan asosiasi tersebut.

Gus Dur dan NU

Awal keterlibatan Gus Dur denagn organisasi k memasukkan kurikulum dari pemeNU adalah ketika beliau pulang ke tanah air dan mendapati kondisi pesantren yang begitu memprihatinkan. Saat itu pemerintah tidak mau ikut serta membangun prasarana pesantren karena kurikulum pesantren tidak memasukkan kurikulum dari pemerintah.

Dari situlah Gus Dur terpanggil untuk aktif berperan serta membangun pesantren. Beliau masih tetap aktif menulis di surat kabar. Tulisan beliau diterima oleh kalangan luas. Dari situlah beliau akhirnya sering diundang ceramah dan mengisi kuliah tamu. Nama beliau semakin dikenal sebagai komentator sosial.

Gus Dur kemudian ditunjuk menjadi Dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Selain itu mengingat latar belakangnya,  beliau juga didaulat menjadi Dewan Penasehat Agama NU.

Tahun 1982, beliau aktif berkampanye untuk PPP, partai berbasis Islam gabungan dari empat partai Islam lainnya termasuk NU. Gus Dur yang saat itu dinilai terlalu vokal, sempat di tangkap aparat, namun ia selalu bisa bebas karena kedekatannya dengan Benny Mordani.

Saat mengetahui bahwa NU dalah organisasi yang termasuk stagnan, Gus Dur tidak hanya diam , beliau terlibat aktif untuk menghidupkan NU. Slah satunya dengan mendiskusikan sebab kestagnanan NU. Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa pemimpin NU saat itu yaitu Idham Chalid harus mengundurkan diri. Akhirnya Idham Chalid bersedia mundur.

Setelah itu NU memilih ketuanya dan Gus Dur terpilih sebagai ketua NU yang baru.

Ikut Serta Dalam Reformasi Indonesia

Pada tahun 1998 terjadilah demonstrasi besar-besaran yang menuntut Presiden Soeharto mundur. Hal itu dipicu oleh krisis finansial yang melanda Asia saat itu.

Gus Dur bersama Amien Rais dan Megawati Soekarnoputri emnjadi tokoh yang paling disorot saat itu karena ikut menyetujui dan mendukung jalannya reformasi sehingga ketiga tokoh itu dijuluki sebagai tokoh reformasi Indonesia.

Pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto akhirnya mengundurkan diri. Dengan mundurnya Soeharto, kepemimpinan negara beralih ke BJ Habibie yang saat itu menjadi wakil Soeharto.

Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah pembentukan partai politik baru. Di bawah rezim Soeharto, hanya terdapat tiga partai politik: Golkar, PPP dan PDI. Dengan jatuhnya Soeharto, partai-partai politik mulai terbentuk, dengan yang paling penting adalah Partai Amanat Nasional (PAN) bentukan Amien dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) bentukan Megawati. 

Pada Juni 1998, banyak orang dari komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru. Ia tidak langsung mengimplementasikan ide tersebut. Namun pada Juli 1998 Gus Dur mulai menanggapi ide tersebut karena mendirikan partai politik merupakan satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Gus Dur menyetujui pembentukan PKB dan menjadi Ketua Dewan Penasehat dengan Matori Abdul Djalil sebagai ketua partai. Meskipun partai tersebut didominasi anggota NU, Gus Dur menyatakan bahwa partai tersebut terbuka untuk semua orang.

Pada November 1998, dalam pertemuan di Ciganjur, Gus Dur, bersama dengan Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubuwono X kembali menyatakan komitmen mereka untuk reformasi. Pada 7 Februari 1999, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden.

Gus Dur Terpilih Menjadi Presiden RI ke 4
Presiden Abdurrahman Wahid

Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangkan 12% suara dengan PDI-P memenangkan 33% suara. Dengan kemenangan partainya, Megawati memperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR. Namun, PDI-P tidak memiliki kursi mayoritas penuh, sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, koalisi partai-partai Muslim. Poros Tengah mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.

Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara resmi menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden. Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie dan ia mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar dan ketuaDewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.

Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden. Setelah meyakinkan jendral Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.

Turunnya Gus Dur Dari Kursi Kepresidenan

Pada 1 Februari, DPR bertemu untuk mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Di Jakarta, oposisi Gus Dur turun menuduhnya mendorong protes tersebut. Gus Dur membantah dan pergi untuk berbicara dengan demonstran di Pasuruan. Pada bulan Maret, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Pada 30 April, DPR mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang Istimewa MPR pada 1 Agustus.

Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001. Namun dekret tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.

Meninggalnya Gus Dur

Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan stroke. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. 

Beliau meninggal dunia pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis(cuci darah) rutin. Menurut Salahuddin Wahid adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.

Gelar Yang Diterima Gus Dur

Gus Dur juga banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lembaga pendidikan:
•             Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)
•             Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
•             Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (2000)
•             Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000)
•             Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000)
•             Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)
•             Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)
•             Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)
•             Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)
•             Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003)

Humor Gus Dur
http://biografionline.blogspot.com/

Gus Dur adalah tokoh masyarakat dan satu-satunya Presiden RI yang sangat santai dalam menanggapi isu-isu yang ada di masyarakat ataupun negara bahkan pernyataannya sering membuat orang terpingkal. Berikut ini adalah beberapa humor Gus Dur yang akan membuat pembaca terpingkal-pingkal

1.MENYENGSARAKAN ANGGOTA DPR
SUATU hari di negara antah berantah, muncul suatu kebijakan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya di negara lain.

Kebijakan itu yakni, setiap orang yang berstatus wakil dinaikkan pangkatnya. Wakil presiden jadi presiden, wakil direktur menjadi direktur, wakil komandan menjadi komandan wakil gubernur menjadi gubernur, wakil RT menjadi ketua RT dan seterusnya. Yang penting dalam program ini tidak ada penggusuran posisi. Perkara ada posisi ganda, itu bisa diatur dalam pembagian tugasnya.

Masalah pembengkakan anggaran, semua ditanggung oleh negara. Sesudah mantap dengan rencana itu, diajukanlah program ini ke DPR untuk mendapatkan persetujuan mereka. Ternyata mereka menolak. Betul-betul menolak keras. Bahkan, ditolak mentah-mentah dengan sangat keras.

Alasannya, program ini menyengsarakan anggota DPR. Bayangkan, mereka akan berubah status dari wakil rakyat menjadi rakyat.

2. NYEBUT BANG…….. !
PENAMPILAN Gus Dur ketika memberikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 Kemerdekaan RI di Sidang Paripurna DPR Agustus 2000, jauh berbeda dibanding saat ia hadir di tempat yang sama untuk menjawab interpelasi DPR. Kali ini dia tampak tegang. Wajahnya agak cemberut.
Namun segala ketegangan akhirnya cair juga. Para anggota DPR malah beberapa kali dibuat terpingkal-pingkal oleh guyonannya.

Di tengah-tengah pidato tanpa teks itu, Gus Dur bercerita tentang seorang kondektur bus asal Sumatera Utara yang bergelantungan di pintu bus. Ketika bus melaju kencang, rupanya sopir bus tak tahu kalau sang kondektur terjatuh kesenggol bus lain. Sang kondektur pun jatuh tersungkur. Kepalanya langsung membentur jalan dan retak. Napasnya sudah Senin Kemis terputus-putus.

Saat itulah datang seorang Betawi yang mencoba menolong kondetktur yang sekarat itu.
“Bang nyebut bang, nyebut,” katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga kanan kondektur itu.
Maksud orang Betawi ini, agar kondektur yang sekarat tadi menyebut kalimat Syahadat La ilaha ilallah, sebelum meninggal. Tapi karena kondektur tadi bukan orang Islam, dia mengaitkan permintaan nyebut tadi dengan profesinya.

Maka sesaat sebelum menghembuskan napas terakhirnya, sang kondektur tadi sempat menyebut, “Blo..M-Depo….Blo M-Depo…”

3. JIHAD DAN JAHID
AMBON bergejolak. Kerusuhan belum juga reda setelah dua tahun berlangsung. Sebagian masyarakat pun berdemonstrasi di depan Istana Presiden.

Presiden kala itu dijabat oleh Gus Dur, yang telah wafat pada 30 Desember 2009.
Mereka dengan mengatasnamakan kepentingan umat Islam, meminta pemerintah segera menyelesaikan kasus Maluku, yang belum juga tampak tanda-tanda akan reda. Mereka mengancam, kalau pemerintah tidak tidak bisa bisa menyelesaikan kasus itu, mereka akan pergi berjihad ke kota di Indonesia Timur itu.
Melihat massa yang berdemonstrasi begitu banyak, di depan Istana pula, Gus Dur mempersilahkan wakil mereka untuk berdialog di dalam Istana.

Dalam dialog yang berlangsung, rupanya titik temu sulit tercapai. Bahkan sesekali terdengar suara keras dari luar ruangan tempat pembicara mereka. Rupanya demonstran bersikeras akan tetap berjihad ke Ambon.
Pertemuan yang hanya berlangsung beberapa menit itu, lantaran tegangnya suasana, akhirnya bubar tanpa kesepakatan apa-apa.

Dua hari kemudian, kepada sejumlah tamu yang berkunjung ke Istana. Presiden Gus Dur menceritakan peristiwa itu. Dia lalu menyatakan, pemerintah akan bertindak tegas.
“Saya tidak perduli,” tandas Gus Dur.
“Yang Kristen kek, yang Islam kek , kalau menggagu keamanan akan kita tindak. Mau jihad kek, mau jahid kek, kalau mengganggu akan ditangkap!”
Para tamunya hanya terngaga saja, tak sempat bertanya. Mestinya mereka boleh tanya, “Kalau jihad sih kita sudah paham. Tapi jahid itu apa artinya Gus?

4. TK ABDURRAHMAN WAHID
Setelah Gus Dur meninggal dunia, banyak pihak yang mengusulkan agar namanya diabadikan sebagai nama antara lain pada universitas, museum, nama jalan. Hal ini sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasa mantan Presiden RI tersebut.

Misalnya Universitas Abdurrahman Wahid di Jakarta, Museum Gus Dur di Jombang, Jalan Abdurrahman Wahid di Surabya, serta Wahid Institute.
Maraknya perbincangan itu membuat pengurus LTMI PBNU Mukhlas teringat dengan humor Gus Dur waktu berkunjung ke Jombang.

Di tempat kelahirannya itu, kata Mukhlas, Gus Dur pernah bercerita bahwa nama kakeknya telah diabadikan menjadi nama universitas, yaitu Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (IKAHA) Tebuireng.
Sementara nama ayahnya telah diabadikan menjadi nama SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng dan SMP A. Wahid Hasyim. Nah berarti saya nanti cuma kebagian TK Abdurrahman Wahid, ujar Gus Dur, seperti ditirukan Mukhlas.

5. GUS DUR DAN MEGAWATI TERNYATA SAUDARA LHO….
DALAM dialog TVRI, yang dipandu Garin Nugroho dan Usi Karundeng, saat menjabat sebagai presiden, Gus Dur ditanya tentang hubungannya yang memburuk dengan Megawati. Gus Dur pun membantahnya.
Sebab, kata dia, dirinya dan Megawati masih kerabat cukup dekat. Loh ini benar-benar berita baru. Dari mana asal-usul hubungan kekerabatnnya itu?

“Lah Megawati itu kan anaknya Bung Karno,” jawab Gus Dur, tentu semua orang sudah tahu. “Lah Bung Karno itu siapa? Kan keturunan Raden Patah (Raja pertama kerajaan Islam Demak) Saya sendiri siapa? Saya ini keturunan adiknya Raden Patah,” imbuhnya.

Tentu saja pernyataan ini membuat pekerjaan besar para sejarahwan Indonesia, untuk mengecek kebenaran info dari Gus Dur itu. Yang jelas jajaran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sendiri sungguh tak paham ihwal hubungan darah Gus Dur dan Megawati ini.

Seorang tokoh PKB, saat ditanya wartawan di Gedung DPR sambil mengangkat tangan mengaku, “Wah soal ini saya tidak tahu menahu,” dan buru-buru melangkah pergi, khawatir diminta penjelasan mengenai ketidaktahuannya itu.

6. JANGAN DIMASUKIN AKAL, TAPI MASUKIN KERTAS DONK…..
CERITA ini sudah lama, sewaktu Almarhum Gus Dur masih menjabat sebagai orang nomor satu di PBNU. Kantor PBNU waktu itu baru saja dilengkapi dengan mesin faksimili.

Hari itu, Arifin Junaidi (Wakil Sekjen PBNU kala itu) tengah memperagakan cara mengirim faksimili di depan Gus Dur. Di saat bersamaan mantan Presiden RI keempat ini kedatangan seorang rekannya. Mereka bertiga jadi memperhatikan mesin canggih itu.

“Loh ngirim tulisan pakai mesin ini apa bisa diterima persis di sana?” tanya rekan Gus Dur terheran-heran.
Arifin menjawab yakin, “Lah iya no!”

Setelah Arifin memfaksimili, tiba-tiba ada faks masuk. Mendengar bunyi dan masuknya faks itu membuat rekan Gus Dur semakin kagum saja.

“Wah mesin faks ini memang luar biasa, nggak masuk di akal ya,” komentar rekan Gus Dur itu sambil geleng-geleng kepala.

spontan Gus Dur langsung nyeletuk, “Ya jangan dimasukkin akal dong, dimasukin kertas to yo,” jawab ringan Gus Dur menggunakan dialek Jawa.

7. OOOOOOH….. INTERNET
Suatu kali ada Kiai Madura yang membanggakan pembangunan pesantrennya kepada Gus Dur.
“Wah.. pesantren saya sudah jadi. Lengkap, bangunannya luas, bertingkat.” Katanya dengan wajah bangga. “Kapan-kapan Gus Dur harus ke sana. Soalnya sudah lengkap dengan eternit!” tambahnya.
“Eternit?” tanya Gus Dur sambil berfikir, setiap bangunan kan memang perlu eternit.
“Payah moso enggak ngerti. Itu loh yang pakai komputer…!”
“Ohhh.. internet,” jawab Gus Dur bersama-sama beberapa orang yang hadir sambil tertawa.

8. TAROWEH DISKON
PADA masa kekuasaan Presiden Habibie, Gus Dur pernah mampir ke rumah Pak Harto di Cendana. Gus Dur mengajak seorang yang disebut dengan “kiai kampung” dari Metro, Lampung Tengah.

Waktu itu bulan puasa.Setelah berbuka dan omong-omong seperlunya, Pak Harto nyeletuk, “Gus Dur dan Pak Kiai ini bakal sampai malam kan di sini?”“O tidak,” jawab Gus Dur. “Saya harus segera pergi, karena ada janji dengan Gus Joyo, adik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tapi Pak Kiai ini biar tinggal di sini. Maksudnya buat ngimami (menjadi imam) salat taraweh, kan?”Pak Harto manggut-manggut.

“Tapi,” lanjut Gus Dur, “Sebelumnya perlu ada klarifikasi dulu?”
“Klarifikasi apa?” tanya Pak Harto.
“Harus jelas dulu, Tarawihnya mau pakai gaya NU? Kalau NU lama bagaimana, kalau NU baru bagaimana?” tanya Pak Harto makin heran.
“Loh apa ada macam-macam gaya NU? Kalau gaya NU lama, tarawihnya 23 rakaat. Gaya NU baru, diskon 60 persen (11 rakaat)!”

Pak Harto cuma ketawa, karena tidak terlalu paham. Dan Pak Kiai nyeletuk, “Iya, deh. Diskon 60 persen pun nggak apa-apa,”

Harap diketahui, “Tarawih diskon” menjadi 11 rakaat itu adalah gaya Muhammadiyah.Keluarga Pak Harto sendiri disebut orang “Hidup dengan cara Muhammadiyah, mati dengan cara NU”. Sebab, Pak Harto pernah mengaku bahwa dia semasa sekolah di Yogyakarta belajar di SMP Muhammadiyah (jadi “berakidah” Muhammadiyah). 

Tapi ketika Bu Tien meninggal, rumahnya di Cendana sibuk dengan macam-macam tahlilan (tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya), yang merupakan trade mark NU.
Jadi kalau Gus Dur menawarkan “Tarawih diskon” 11 rakaat itu, Pak Harto dengan senang hati menerima saja. Itu artinya kembali ke “khittah”.

9. KEPUTUSAN RAPAT
Saat masih berada di bangku sekolah, Gus Dur memang terkenal sebagai anak yang usil bin jail.Pernah suatu kali dia berusaha mengerjai guru Bahasa Inggrisnya, dengan seember air, yang digantung di pintu kamar mandi di sekolahnya. Karuan saja, saat sang guru hendak membuka pintu, “Byuur!” basah kuyuplah sang guru asal Batak tersebut.Namun ketika sang guru bertanya, “Siapa yang punya ide untuk menaruh ember itu di situ?”Sambil menahan tawa Gus Dur menjawab, “Awalnya memang saya yang punya ide Bu. Tetapi kemudian sudah menjadi keputusan rapat.”

10. TAK JAWAB SMS, KARENA TULISANNYA JELEK
Suatu ketika Gus Dur membagi-bagikan handphone kepada sejumlah kiai NU. Tentu saja para kiai ini agak kikuk dengan teknologi telepon genggam itu.Karena merasa sejumlah kiai koleganya sudah mendapatkan handphone, Gus Dur pun dengan mudah menghubungi mereka lewat telepon genggam tersebut.

Pada satu kesempatan, Gus Dur meminta kepada asistennya untuk mengirimkan SMS ke salah seorang kiai. Namun, lama ditunggu, jawaban dari sang kiai tak kunjung didapat. Alhasil Gus Dur pun menelepon sang kiai.

“Pak kiai, kalau ada SMS dari umat mbok ya dijawab,” kata Gus Dur.Lantas dengan polosnya sang kiai menjawab, “Waduh Gus, saya nggak nulis di handphone ini, soalnya tulisan saya jelek.”

11. CERITA GUS DUR SOAL NAIK KERETA
Setelah mendapat larangan dari dokternya untuk tidak melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat terbang, Gus Dur kemudian nekat untuk berpergian jauh menggunakan kereta api.
“Anda mau pergi naik kerata api Gus? Memangnya Anda pikir bisa sampai tepat waktu dengan naik kereta api?” ledek si dokter.

“Anda jangan meremehkan, kereta itu cepet banget loh!” jawab mantan Presiden RI ke-4 itu.
“Kereta api mana yang bisa menandingi kecepatan pesawat terbang?” tanya dokter.
“Oho.. Anda jangan salah. Semua kereta api bisa lebih cepat dari pesawat,” kilah pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 ini.

“Anda mimpi kali. Semua orang juga tahu kalau pesawat itu jelas lebih cepat dibandingkan kereta api,” cecar sang dokter.

“Wah, Anda salah. Memang sekarang ini pesawat lebih cepat. Tapi itu karena kereta api baru bisa merangkak. Coba kalau kereta api nanti sudah bisa berdiri dan bisa lari. Wuiih.. pasti bakalan jauh lebih cepat dari pesawat,” jawab Gus Dur, disambut wajah kecut sang dokter

12. PENGALAMAN GUS DUR NAIK HAJI
Gus Dur seperti tidak pernah kehabisan cerita, khususnya yang bernada sindiran politik. Menurut dia, ada kejadian menarik di masa pemerintah Orde Baru.Suatu kali Presiden Soeharto berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Karena yang pegi seorang persiden, tentu sejumlah menteri harus ikut mendampingi. 

Salah satunya “peminta pertunjuk” yang paling rajin, Menteri Penerangan Harmoko.Setelah melewati beberapa ritual haji, rombongan Soeharto pun melaksanakan jumrah, yakni simbol untuk mengusir setan dengan cara melempar batu ke sebuah tiang mirip patung. Di sini lah muncul masalah, terutama bagi Harmoko.

Beberapa kali batu yang dilemparkannya selau berbalik menghantam jidatnya. “Wah kenapa jadi begini ya?” cerita Gus Dus menuturkan pernyataan Harmoko yang saat itu tampak gemetar karena takut.
Lalu Harmoko pindah posisi. Hasilnya sama saja, batu yang dilemparnya seperti ada yang melempar balik ke arah dirinya. Setelah tujuh kali lemparan hasilnya selalu sama, Harmoko pun menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari posisi presiden untuk “minta petunjuk”. Setelah ketemu, lalu dengan lega ia tergopoh-gopoh menghampiri Bapak Presiden.

Namun, sebelum sampai di hadapan Soeharto, ia turut mendengar bisikan “Hai manuia, sesama setan jangan saling lempar.”

Biografi Abu Bakar As Sidiq Sahabat Rosulullah

Abu Bakar As Siddiq
Abu Bakar As Sidiq adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rosullullah. Beliau adalah salah satu dari empat Khulafaurrasyidin atau kalifah pertama pengganti Nabi Muhammad SAW. Beliau juga termasuk dalam Assabiqunal Awwalun yaitu orang yang pertama kali masuk Islam.

Abu Bakar As Sidiq dilahirkan ditahun yang sama dengan Nabi yaitu antara 571/572 Masehi di Mekkah. Nama asli beliau adalah Abdullah ibni Abi Quhaafah. Abu Bakar berarti ‘ayah si gadis’, yaitu ayah dari Aisyah istri Nabi Muhammad SAW. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah’), yang kemudian diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah (artinya ‘hamba Allah’). 

Sumber lain menyebutkan namanya adalah Abdullah bin Abu Quhafah (Abu Quhafah adalah kunya atau nama panggilan ayahnya). Gelar As-Sidiq (yang dipercaya) diberikan Nabi Muhammad SAW sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq. Menurut sejarah, gelar As Sidiq ini diberikan oleh Nabi karena Abu Bakar adalah sahabat pertama yang mempercayai dan mengimani peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad.


Abu Bakar adalah seorang saudagar yang cuup sukses dan kaya raya. Beliau juga seorang hakim agung yang sangat populer di masanya serta memiliki pendidikan dan kedudukan yang tinggi di masyarakat. Keahlian Abu Bakar lainnya adalah bisa menafsirkan mimpi. Ibaratnya adalah Abu Bakar itu seorang bangsawan dan konglomerat.

Masuk Islam

Ketika Islam baru pertama kali disampaikan, banyak pemeluk Islam adalah berasal dari orang yang tertindas , budak, kaum marjinal, serta anak-anak muda yang menginginkan keadilan dimana Islam bakal memberi jawaban tentang itu. Namun Abu Bakar dengan kedudukan dan pengaruh yang seperti itu dimasyarakat memutuskan bergabung dengan barisan Islam adalah suatu magnet tersendiri bagi Islam. Banyak yang akhirnya memeluk Islam bersama Abu Bakar.

Walau ia berasal dari golongan kuat, namun Abu Bakar juga mengalami hal yang tak mengenakkan seperti pemeluk Islam awalan lainnya. Seperti intimidasi, dipaksa untuk kembali ke jaran jahiliyah, pemboikotan dagang, fitnahan dan lain sebagainya. Walau begitu, Abu Bakar tetap kuat dalam iman Islamnya bahkan beliau juga mengorbankan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Abu Bakar juga telah memerdekakan banyak budak Islam yang disiksa oleh majikannya.

Abu Bakar adalah satu-satunya teman Nabi saat berhijrah ke Madinah pada 622 Masehi. Beliau bersama Nabi berdua menyisiri tandusnya gurun Arabia guna berhijrah ke Madinah. Beliau juga melindungi Nabi saat berhijrah dan dikejar-kejar oleh kafir Quraisy.

Khalifah Pertama

Ketika Rosullullah akan meninggal, Abu Bakar ditunjuk sebagai imam shalat. Hal ini menjadi petunjuk bagi umat Islam bahwa sepeninggal Nabi, Abu Bakar-lah yang menjadi khalifah menggntikan Nabi mengurus pemerintahan dan umat bukan pengganti sebagai Rosul. Sempat terjadi perselisihan pada kaum Syiah yang tak mau mengakui Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Menurut mereka Nabi pernah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya, namun Ali bin Abi Thalib sendiri bersedia baiat atau mengakui Abu Bakar sebagai khalifah sehingga pertentangan bisa diselesaikan dengan damai.

Setelah diangkat menjadi khalifah, Abu Bakar segera melakukan tugasnya. Yang pertama ialah memerangi Musailamah Al Kazab (si Nabi palsu) yang mengaku menjadi Nabi setelah Rosul Muhammad.

Tugas selanjutnya adalah memaksa dan memerangi suku-suku yang tidak mau membayar zakat. Menurut suku-suku itu, zakat adalah  upeti kepada Nabi Muhammad dan bila Nabi wafat maka tak ada kewajiban lagi membayarnya. Padahal zakat adalah harta yang harus dibayarkan setiap muslim yang telah mencapai nishob dan diniatkan untuk ridha Allah bukan upeti.

Setelah selesainya beragam pemberontakan dan masalah internal, barulah Abu Bakar melakukan dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia seperti ke Bizantium dan Sasanid serta Irak dan Suriah.

Wafatnya Abu Bakar

Abu Bakar As Sidiq menjadi khalifah dalam jangka waktu 2 tahun. Abu Bakar meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di Madinah. Beliau dimakamkan di samping makam Rasullullah Saw. Selanjutnya posisi khalifah digantikan oleh Umar bin Khatab

Biografi Sunan Bonang

Tahukah kalian dengan lagu “Tombo Ati” atau “Obat Hati”?
Tahukah teman, siapa sebenarnya yang menciptakan lagu yang legendaris itu?
Sebenarnya pencipta lagu tersebut adalah Sunan Bonang.

Sunan Bonang adalah salah satu dari Sembilan Wali (Wali Sanga) yang merupakan orang-orang shalih yang telah menyebarkan Islam di pulau Jawa. Berikut ini akan diulas Biografi Sunan Bonang.


Biografi Sunan Bonang

Sunan Bonang memiliki nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim. Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 masehi. Beliau adalah salah satu putera dari Sunan Ampel dengan nama ibunya adalah Nyai Ageng Manila yang merupakan puteri adipati Tuban. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang dikabarkan juga masih memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW. Berikut ini adalah silsilah dari Sunan Bonang hingga sampai Nabi Muhammad SAW.

Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim bin
Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Muhammad Syahril
Ali Zainal 'Abidin bin
Hussain bin
Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW).

Sunan Bonang mempelajari berbagai ilmu agama Islam dari pesantren sang ayah (Sunan Ampel) di Ampel Denta. Setelah dirasa sudah cukup mahir dan cukup umur, Sunan Bonang mulai berdakwah dengan berkelana ke pelosok negeri. Ia pergi ke Kediri yang masyarakatnya masih menganut Hindu. Di sana ia mendirikan masjid Sangkal Daha dan mendirikan Pasujudan Sunan Bonang yang sangat terkenal.
http://biografionline.blogspot.com/

Dalam berkelananya itu, Sunan Bonang akhirnya menetap di desa kecil di Lasem Jawa Tengah yaitu kurang lebih berjarak 15 km dari Rembang. Daerah itu kemudian terkenal dengan nama Bonang – sesuai nama Sunan Bonang. Di sana Sunan Bonang mendirikan pesantren yang saat ini bernama Watu Layar. Sunan Bonang juga ditunjuk sebagai imam besar Kesultanan Demak, beliau juga diangkat sebagai panglima tertinggi.

Sunan Bonang tetap mengunjungi daerah-daerah terpencil untuk menyebarkan Islam. Daerah seperti Tuban, Pati, Madura bahkan Pulau Bawean yang sangat sulit dijangkau pernah disentuh dengan dakwahnya.
Ajaran yang dibawa Sunan Bonang adalah campuran dari ajaran tasawuf dan ahlussunnah. Sunan Bonang sangat menguasai ilmu fiqih, usuludin, tasawuf, seni,sastra dan arsitektur. Sunan Bonang juga mendalami ilmu kebatinan dan ilmu dzikir. Bagi masyarakat yang pernah dikunjunginya, Sunan Bonang terkenal karena keahliannya dalam menemukan sumber air bagi daerah yang kering.

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Sunan Bonang piawai memadukannya dengan tradisi masyarakat disana. Sunan Bonang juga bekerja sam adengan muridnya yaitu Sunan Kalijaga dalam menciptakan media penyampaian dakwah yang mudah difahami masyarakat.

Contohnya dalam pementasan wayang, Sunan Bonang sangat piawai menjadi dalang. Sunan Bonang menggubah lakon dan memasukkan ajaran Islam yang membuat penonton secara sadar ataupun tidak akhirnya menjadi pemeluk Islam yang benar. Sunan Bonang juga menggubah gamelan jawa yang saat itu sangat kental dengan ajaran Hindu. Sunan Bonang menambahkan instrumen Bonang. Gubahannya sangat kental dengan nuansa dzikir yang selalu mengingatkan masyarakat akan Alloh SWT. Salah satu karya Sunan Bonang yang sangat legendaris dan terkenal adalah tembang “Tombo Ati” atau lagu “Obat Hati”. Saat ini lagu tersebut dibawakan oleh penyanyi religi Opick.
Sunan Bonang wafat tahun 1525 masehi. Makam aslinya sebenarnya berada di desa Bonang. Akan tetapi yang saat ini sering diziarahi adalah makam yang di Tuban. Mengapa seperti ini, karena konon saat beliau meninggal, seorang murid yang dari Madura ingin membawa jenazah gurunya untuk dimakamkan di Madura. Namun murid tersebut hanya berhasil membawa kain kafannya serta bajunya saja. Saat sampai Tuban, sang murid dari Madura dicegat oleh murid Sunan Bonang yang dari Tuban. Oleh sang murid yang dari Tuban, murid yang dari Madura disangka membawa jenazah sang Guru. Mereka pun berebut dan murid dari Tuban tadi berhasil membawa kain kafan dan baju-baju Sunan Bonang yang dikira jenazah Sunan Bonang, dia kemudian menguburkannya di Tuban.

Itulah Biografi Sunan Bonang, semoga bisa menambah khazanah keilmuan kita tentang penyebaran Islam di pulau Jawa.

Biografi Amien Rais

Biografi Online ~ Amien Rais adalah salah satu tokoh Nasional yang berjasa dalam membawa gerakan Reformasi 1998. Amien Rais beserta Megawati Soekarnoputri dan KH Abdurrahman Wahid adalah tokoh reformasi yang mengawal jalannya reformasi 1998 hingga bisa menumbangkan Reim Orde Baru. Berikut ini Biografi Amien Rais.

Lahir dan Masa Kecil

Amien Rais dilahirkan pada tanggal 26 April 1944 di Solo dari pasangan suami istri Suhud Rais dan Sudalmiyah. Amien Rais adalah anak kedua dari enam bersaudara yaitu adalahFatimah, dan empat adiknya adalah Abdul Rozak, Achmad Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Aminah.

Sejak kecil Amien Rais dididik pendidikan agama secara ketat oleh sang ibu. Keluarga Amien Rais adalah keluarga yang  taat beribadah. Ayahnya adalah seorang guru sedang ibunya adalah guru di sekolah Kepandaian Putri (SGKP ) Negeri dan Sekolah Bidan Aisyiyah Surakarta. Keluarga Amien Rais memang cenderung ke Muhammadiyah. Kakeknya, Wiryo Soedarmo adalah salah satu pendiri Muhammadiyah di Gembong, Jawa Tengah.

Didikan Ibu yang Disisplin

Sudalmiyah adalah tipe orang yang sungguh – sungguh dalam melakukan segala hal termasuk dalam profesinya sebgai guru, beliau benar-benar total menjalaninya. Karena totalitasnya di dunia pendidikan ini maka pada 1985 gelar Ibu Teladan se-Jawa Tengah disematkan padanya. Sudalmiyah juga suka berorganisasi, Beliau sangat aktif dalam partai politik Masyumi ketika masih jaya-jayanya.

Ketotalan Sudalmiyah juga tercermin dalam cara mendidik anak-anaknya. Sudalmiyah sangat menerapkan disiplin pada anak-anaknya. Sebagai contoh ketika bangun pagi. Amien Rais kecil sudah dilatih untuk bangun tiap jam 4 pagi. Agar tidak terlambat bangun maka sang ibu selalu emasang weker. Dan jika sudah bangun maka Amien disuruh untuk mengatakan “ashalatu khairum minan naum” dengan suara keras sehingga terdengar sang ibu, kemudian mereka semua harus siap berjamaah subuh. Biasanya Sudalmiyah akan memberi bonus 50 sen jika sang anak berhasil bangun tepat waktu. Uang tersebut dimasukkan ke celengan oleh Amien dan dibuka ketika lebaran untuk membeli baju lebaran.

Sekalipun ibu Amien Rais orang yang tegas namun beliau tak memaksa kehendak anaknya dalam memilih karier. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh dan berkembang alamiah sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Ibunya hanya berpesan bahwa “Hakikat hidup adalah ibadah”. Pesan inilah yang selalu diingat oleh Amien Rais hingga tua. Segala yang dilakukan haruslah diniatkan untuk ibadah biar tak sia-sia. Makn untuk ibadah, tidur ibadah, kerja juga niat ibadah.

Bagi Amien Rais, ibu adalah orang yang sangat mempengaruhi kehidupannya, membentuk karakternya. Hingga jika Amien mengalami masalah yang sulit dipecahkan maka ia selalu berkonsultasi ke sang ibu di Solo. Setiap Idul Fitri, rumah sang ibunda di Solo selalu ramai dikunjungi anak-anaknya dan cucu-cucunya termasuk Amien Rais.

Ketika kecil, Amien Rais bercita-cita ingin menjadi Walikota. Hal ini dikarenakan kekagumann Amien Rais pada Muhammad Saleh sang Walikota Solo yang begitu taat menjalankan agama serta masih aktif memberikan tauziah di masjid-masjid walau sudah sibuk dengan tugas kewalikotaan.

Akan tetapi ketika SMA, Amien Rais ingin menjadi duta besar. Hingga beliau memilih Hubingan Internasional ketika kuliah. Amien berprinsip bahwa “Hidup untuk mencari Ridha Allah”. Beliau sellau berpegang bahwa untuk menggapai ridah Illahi maka beliau harus menjadi orang yang apa adanya. “You are what you are”.

Amien Rais Menikah

Pada 9 Februari 1969, Amien Rais menikahi seorang gadis yang bernamaKusnasriyati Sri Rahayu. Gadis itu juga adalah teman kecilnya dahulu. Namun selama menjalani pernikahan mereka sulit dikaruniai anak hingga usia pernikahan yang ke 10. Mereka berdua sudah mencoba berbagai jalan namun selalu belum memperoleh hasil.

Hingga suatu saat mereka berdua diberi kesempatan untuk beribadah haji ke tanah suci. Amien Rais dan sang istri begitu khusyu beribadah dan berdoa di depan Baitullah. Setelah pulang dari Mekkah. Dua bulan kemudian Kusnasriyati positif hamil. Sejak saat itu setiap dua tahun mereka dikaruniai anak hingga lima orang yaitu Ahmad Hanafi, kemudianHanum Salsabiela, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan yang terakhirAhmad Baihaqy.

Istri Amien Rais adalah ibu rumah tangga yang begitu total menjaga anak-anaknya. Untuk lebih dekat dengan dunia anak-anak, Kusnasriyati mendirikan Taman Kanak Kanak. Awalnya itu hanyalah TK kecil namun kemudian berkembang menjadi TK yang lebih maju. Kusnasriyati juga membuka kedai sederhana yang kemudian sangat diminati para mahasiswa.

Bagi Amien Rais, istrinya adalah wanita luar biasa. Pernah suatu ketika beliau menerima tamu wartawan dari Jepang. Amien Rais begitu antusias menceritakan perihal istrinya, “Istri saya mungkin merupakan wanita terbaik se-Asia Tenggara.” Begitulah Kusnasriyati dimata Amien Rais.

Berorganisasi dan Karir Politik

Ketika sekolah Amien Rais sangat aktif di kegiatan Hizbul Wathon atau Pramuka. Disinilah Amien Rais mengenal apa itu kepemimpinan dan kebersamaan dalam satu visi dan misi atau yang disebut berorganisasi. Ketika menjadi mahasiswa, ia termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. 

Ia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam [HMI], dan pernah di¬percaya untuk mendu¬duki jabatan sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta. Amien Rais juga suka menulis di kolom surat kabar yaitu tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia.  Karena ketajaman dalam menulis ini Amien Rais pernah menerima Zainal Zakie Award, sebuah penghargaan bagi mereka yang bagus artikelnya.

Sejak TK hingga SMA, Amien Rais selalu memilih sekolah Muhammadiyah. Jika ketika itu sudah berdiri Universitas Muhammadiyah maka mungkin Amien Rais memilih kuliah disitu juga. Amien Rais lalu memilih UGM untuk kuuliahnya, namun sang ibu menginginkannya belajar di Kairo. Untuk menghibur hati ibunya Amien Rais berkuliah ganda di UGM dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketika itu belum muncul larangan kuliah pararel.

Setelah lulus S1, Amien Rais melanjutkan studinya ke University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat. Amien Rais kemudiann meneruskan S3 di University of Chicago untuk meraih gelar doktor. Dalam kesehariannya, Amien Rais memilih mengabdi di Almamaternya yaitu UGM menjadi dosen. 

Penggerak Reformasi

Ketika Indonesia mengalami pergolakan mulai tahun 1997, Amien Rais tidak tinggal diam. Beliau juga aktif menyuarakan apresiasi rakyat yang kemudian mengantarkannya menjadi aktifis yang menggerakkan roda reformasi pada tahun 1998 bersama Megawati, Sri Sultan HBX dan Gus Dur.

Karena jasa beliau dan Megawati, Sri Sultan HBXserta Gus Dur inilah kemudian tiga tokoh ini dinobatkan sebagai Tokoh Reformasi 1998. Amien Rais sendiri disebut sebagai Bapak Reformasi.

Setelah Soeharto tumbang dan tuntutan reformasi akan pergantian kepemimpinan menuai sukses, Amien Rais kemudian membentuk sebuah partai yang disebut Partai Amanat Nasional atau PAN. Pada pemilu 1999, Amien Rais terpilih sebagai Ketua MPR. Posisi ini sangatlah strategis dengan segala upaya, Amien Rais sangat pandai dalam “bermain” sehingga ketika dipimpinnya MPR benar-benar bisa mengemban amanat rakyat.

Pada 2006  Amien turut mendukung evaluasi kontrak karya terhadap PT.Freeport. Setelah terjadi peristiwa Abepura, Kepala Badan  Intelejen Negara (BIN) Syamsir Siregar secara tidak langsung menuding Amien Rais dan LSM terlibat dibalik peristiwa ini. Tapi hal ini kemudian dibantah kembali oleh Syamsir Siregar.

Peran Amien Rais dalam kegiatan politik di Indonesia sangatlah besar. Indonesia sangatlah beruntung memiliki sosok cendekiawan seperti beliau. Semoga dikemudian hari muncul “Amien Rais Amien Rais” yang baru dan jauh lebih baik untuk kemajuan bangsa ini.

Biografi Mahfud MD – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi

Biografi Online ~ Mahfud MD adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang lumayan berhasil. Sebelum dijabat oleh beliau lembaga Mahkamah Konstitusi seakan hanya pelengkap dari lembaga negara saja tanpa pernah terdengar gaungnya. Bahkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut sudah luntur.

Hingga diangkatnya Mahfud MD sebagai Ketuanya maka ada banyak perubahan besar di lembaga tersebut. Yang paling mencolok adalah kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut makin meningkat. Sosok Mahfud selalu terkait dengan MK. 

Berikut ini akan dibahas Biografi Mahfud MD.

Lahir dan Masa Kecil
Mahfud adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Mahmodin dan ibunya bernama Siti Khadijah. Mahfud bukanlah anak keluarga kaya. Ayahnya, Mahmodin atau kerap disapa Pak Emmo adalah pegawai negeri rendahan yang sering berpindah-pindah tugas.

Mahfud MD dilahirkan di Sampang, Madura, Jawa Timur pada tanggal 13 Mei 1957. Masa kecil Mahfud hingga sekolah menengah atas banyak dilewatkan di Madura dan Jawa Timur. Hingga ketika kuliah dirinya memilih Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Masa sekolah Mahfud disibukkan dengan kegiatan belajar. Ketika pagi hingga sore, Mahfud harus belajar di madrasah untuk mempelajari ilmu umum dan agama. Ketika sore hingga subuh, Mahfud menghabiskan waktunya untuk mmeperdalam agama di surau atau masjid.

Praktislah Mahfud lumayan menguasai ilmu agama dengan baik dan juga ilmu umum terutama yang berkenaan dengan hukum.

Setamat kuliah Mahfud kemudian menjadi tenaga pengajar dan juga menjadi Guru Besar Hukum Tata Negara di almamaternya. Sembari itu Mahfud juga mengambil kuliah lagi S2 di UGM dan mengantongi gelar doktor dari sana pada tahun 1993. Mahfud juga berprofesi sebagai Hakim Konstitusi.

Asal Muasal inisial MD Dibelakang nama Mahfud
Inisial MD dibelakang nama Mahmud bukanlah gelar akademis. Ketika di sekolah tingkat pertama atau setara SMP, di kelas ada 3 anak bernama Mahfud. Untuk membedakannya sang guru pada awalnya memberi inisial A, B, dan C namun sepertinya inisial itu kayak plat nomor becak. Akhirnya inisial tersebut dirubah dengan mengikutkan nama ayahnya dibelakang masing masing anak. Kebetulan nama ayahnya berbeda. Mahfud sendiri kemudian diberi inisial Mahfud Mahmodin dan sering disingkat Mahfud MD.

Kata "Mahfud" sendiri berarti "Yang Terjaga" maksudnya adalah terjaga dari hal-hal buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Sejak saat itu setiap menulis nama,  Mahfud selalu menyertakan inisial nama ayahnya “MD”. Sewaktu penulisan ijazah, sang guru lupa untuk mencoret nama MD dan terbawa hingga penulisan ijaah SMA, Perguruan Tinggi hingga S2 dan hingga sekarang. Sepertinya memang inisial MD itu membawa berkah.

Karir Mahfud MD

Track record Mahfud yang lumayan bagus membuat dirinya akhirnya diangkat sebagai Menteri Pertahanan dan kemudian menjadi Menteri Hukum dan HAM.

Karir Mahfud setelah itu terus naik dengan ditunjuknya dirinya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi 20018 hingga 2011. Selama menjabat sebagai MK, banyak sekali gebrakan dilakukannya di intern lembaga MK sehingga lebih bersih, transparan dan profesional.

Lembaga MK yang dahulunya hanya dianggap boneka penguasa oleh rakyat, ketika dipegang oleh Mahfud bisa menjadi lembaga yang cukup dipercaya oleh masyarakat hingga Mahfud selesai menjabat pada 2011. Ketua mk kemudian dipegang oleh Akil Mochtar.

Namun sayang sekali Akil Mochtar ternyata tak sejujur Mahfud MD sehingga hanya beberapa bulan menjabat sebagai ketua MK sudah tersandung kasus korupsi. Masyarakat pun kembali tak percaya pada MK. Mahfud pun agak kecewa pada penggantinya karena tak bisa memegang amanat rakyat dengan baik dan Akil Mochtar pun tak bisa mempertahankan kredibilitas MK dimata masyarakat yang telah dibersihkan oleh Mahfud MD.

Keluarga Mahfud MD
Mahfud MD menikah dengan seorang temannya sesama Mahasiswa Hukum UII dan juga sesama aktivis kampus yaitu Zaizatun Nihayati, SH. Mereka menikah pada 1982 dan kemudian dikaruniai tiga orang anak yaitu :
  1. Mohammad Ikhwan Zein, laki-laki kelahiran 15 Maret 1984, Alumni Fakultas Kedokteran UGM.
  2. Vina Amalia, perempuan kelahiran 15 Juli 1989.
  3. Royhan Akbar, laki-laki kelahiran 7 Februari 1991.
Istri Mahfud adalah seorang guru SMA. Namun ketika Mahfud ditunjuk sebagai Menteri dan diharuskan hijrah ke Jakarta maka sang istri harus melepas pekerjaannya sebagai guru dan mengikuti sang suami ke Jakarta.

Dicalonkan Menjadi Capres 2014

Kualitas Mahfud yang bersih dari korupsi serta profesionalismenya dalam menjalankan amanat membuat masyarakat menjadi segan dan hormat pada Mahfud. Hal ini membuat Partai Demokrat ingin meminang Mahfud sebagai Capres dari Partai Demokrat untuk pemilu 2014 mendatang.

Akan tetapi Mahfud menolak dengan alasan mendengarkan nasihat ulama yang memberi arahan pada Mahfud agar dicalonkan melalui PKB saja.

Melihat kredibilitas Mahfud MD memang cocok dicalonkan sebagai Capres 2014 namun kita tunggu saja beliau bersedia menerima pinangan dari partai mana. Yuk diikutin beritanya....

Berikut ini adalah Biodata Mahfud MD :
Nama : Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U.
Tempat Lahir : Sampang , Madura - Jawa Timur , Indonesia.
Tanggal Lahir : 13 Mei 1957.
Almamater : Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta dan UGM
Pekerjaan : Akademisi dan Hakim Konstitusi
Agama : Islam
: Zaizatun Nihayati, SH
Istri
Anak : Mohammad Ikhwan Zein
Vina Amalia
Royhan Akbar
Ayah : Mahmodin
Ibu : Siti Khadijah



Pendidikan Mahfud MD
  • Madrasah Ibtidaiyah di Pondok Pesantren al Mardhiyyah, Waru, Pamekasan, Madura
  • SD Negeri Waru, Pamekasan, Madura
  • Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Pamekasan, Madura
  • Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta
  • Sarjana Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
  • Sarjana Sastra Arab, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  • Magister Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
  • Doktor Ilmu Hukum Tata Negara, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  • Profesor Hukum Tata Negara, Universitas Islam Indonesia, Yogyakara
Pekerjaan Mahfud MD
  • Dosen Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (1984-Sekarang)
  • Sekretaris Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (1986-1988)
  • Pembantu Dekan II Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (1988-1980)
  • Direktur Karyasiswa, Universitas Islam Indonesia (1991-1993)
  • Pembantu Rektor I Universitas Islam Indonesia (1994-2000)
  • Direktur Pascasarjana Universitas Islam Indonesia (1996-2000)
  • Anggota Panelis dan Asesor, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (1997-1999)
  • Plt. Staf Ahli dan Deputi Menteri Negara Urusan HAM (1999-2000)
  • Menteri Pertahanan Republik Indonesia, kemudian Menteri Kehakiman (2000-2001)
  • Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (2002-2005)
  • Rektor Universitas Islam Kadiri (2003-2006)
  • Anggota DPR RI, duduk di Komisi III dan Wakil Ketua Badan Legislatif (2004-2008)
  • Anggota Tim Konsultan Ahli pada Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum HAM RI (sekarang)
  • Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (2008 – 2013)
  • Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat IKA UII (2010-Sekarang)
Organisasi Yang Diikuti Mahfud MD
  • Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
  • Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (2010-Sekarang)
  • Dewan Pengasuh Forum Keluarga Madura Yogyakarta (2007-Sekarang)
Publikasi yang berkenaan dengan Mahfud MD
  • GUSDUR Islam, Politik dan Kebangsaan (Penerbit LKIS : 2010)
  • On The Record, Mahfud MD di balik Putusan Mahkamah Konstitusi (Penerbit PT Raja Grafindo Persada : 2010)
  • Mahfud MD di Mahkamah Konstitusi dalam Liputan Pers (Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi : 2010)
  • Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu (Penerbit PT. Raja Grafindo Persada : 2009)
  • Politik Hukum di Indonesia (Penerbit PT. Raja Grafindo Persada : 2009)
  • Dasar-Dasar dan Struktur Ke Tatanegaraan Indonesia (Penerbit Rineka Cipta : 2001)
  • Potret Akademisi dan Politisi (Penerbit UII Press : 2006)
  • Setahun Bersama Gus Dur, Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit (Penerbit LP3ES : 2003)
  • Membangun politik hukum, menegakkan konstitusi (Penerbit LP3ES : 2006)

Profil dan Biografi Jusuf Kalla

Biografi Online ~ Jusuf Kalla atau Yusuf Kalla atau Mohammad Jusuf Kalla adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia. Berawal dari pengusaha asal Makassar yang kemudian terjun ke panggung politik, bapak yang menurut saya sangat cerdas ini kemudian berhasil menduduki orang nomor dua di Indonesia. Berikut ini Biografi Jusuf Kalla.

Biografi : Lahir - Berbisnis
Jusuf Kalla dilahirkan dari keluarga saudagar Makassar. Ia dilahirkan pada tanggal 15 Mei 1942 diWatampone, Bone, Sulawesi Selatan. Ayah Jusuf Kalla adalahHaji Kalla seorang pengusaha keturunan Bugis dengan group perusahaannya Kalla Group. Sedangkan ibunya adalah Athirah.

Kalla Group adalah grup perusahaan yang awalnya bergerak dibidang ekspor-impor namun ketika Jusuf Kalla juga bergabung mengurus perusahaan, Kalla Group menjadi sebuah grup bisnis yang menggurita dengan bidang bisnis perhotelan, konstruksi, pejualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit, dan telekomunikasi.

Setelah menamatkan kuliahnya di Universitas Hasanuddin, Makassar, Jusuf Kalla lalu bergabung penuh dalam perusahaan keluarganya. Bisnisnya semakin berkembang tak hanya di Makassar namun juga di seluruh Nusantara serta Luar negeri.

Masuk Dunia Politik - Wapres


Setelah bisnisnya bisa auto pilot dan dipegang oleh saudara serta anak-anaknya, Jusuf Kalla kemudian terjun ke dunia politik. Jusuf Kalla memutuskan bergabung dengan partai Golkar.

Jusuf Kalla kemudian didaulat sebagai ketua umum Golkar yang kemudian digandeng oleh SBY untuk maju di pilpres 2004. SBY-Kalla pun kemudian keluar sebagai pemenang di pilpres 2004. SBY menjadi presiden RI ke 6 sedang JK (Jusuf Kalla) sebagai wapres RI ke 10. SBY-JK juga pasangan presiden dan wakil presiden pertama yang dipilih oleh rakyat langsung. SBY-JK menjadi orang no 1 dan 2 di RI dengan massa jabatan 2004-2009.

Sebelum itu semasa kabinet Abdurrahman Wahid, Jusuf Kalla juga menjabat sebagai menteri namun kemudian diberhentikan. Tetapi ketika kabinet Megawati, JK diangkat kembali sebagai menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Jabatan menteri ini kemudian ditanggalkan karena JK memutuskann untuk menerima pinangan SBY untuk jadi pasangannya di pilpres 2004 yang akhirnya menang.

Jusuf Kalla yang menjadi ketua umum Golkar periode 2004 hingga 2009 lalu berkoalisi dengan Wiranto dari Partai Hanura untuk maju ke pilpres 2009. Namun JK-Wiranto kalah telak.

Bersosial

Sejak saat itu praktis Jusuf Kalla mengundurkan diri dari panggung politik. Jusuf Kalla kemudian menyibukkan diri kedalam kegiatan sosial. Jusuf Kalla dipilih sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia periode 2009-2014 dan juga Ketua Umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017.

Keluarga Jusuf Kalla
Jusuf Kalla menikah dengan Hj Mufidah Jusuf. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai seorang anak laki-laki dan empat anak perempuan yang telah memberinya sembilan cucu.

Biodata Jusuf Kalla
Nama
:
Drs. H. Jusuf Kalla
Lahir
:
15 Mei 1942.
Tempat Lahir
:
Makassar, Sulawesi Selatan
Kebangsaan
:
Indonesia
Parpol
:
Partai Golkar
Istri
:
Hj Mufidah Miad Saad
Profesi
:
Pengusaha
Agama
:
Islam
Anak
:
Muchlisa Jusuf
Muswirah Jusuf
Imelda Jusuf
Solichin Jusuf
Chaerani Jusuf
Cucu
:
Ahmad Fikri
Mashitah
Jumilah Saffanah
Emir Thaqib
Rania Hamidah
Aisha Kamilah
Siti Safa
Rasheed
Maliq Jibran

Riwayat Pendidikan

•             Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (1967)
•             The European Institute of Business Administration, Perancis (1977)

PENGALAMAN PEMERINTAHAN
* 1999 – 2000 : Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia
* 2001 – 2004 : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rayat Republik Indonesia
* 2004 – 2009 : Wakil Presiden RI

PARTAI GOLKAR

* N P A G : 20000000066
* 1965 – 1968 : Ketua Pemuda Golkar Sulsel
* 1978 – 1999 : Anggota Dewan Penasehat DPD Golkar Sulawesi Selatan
* 1999 – 2005 : Anggota Dewan Penasehat DPP Gololongan Karya (Golkar)
* 2005 – 2009 : Ketua Umum DPP Golkar

LEMBAGA LEGISLATIF
* 1965 – 1968 : Anggota DPRD Sulsel, mewakili Pemuda Sekber Golkar
* 1982 – 1987 : Anggota MPR – RI Utusan Golkar

BIDANG AGAMA
* Ketua Yasan Badan Wakaf Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar
* Bendahara Masjid Raya Makasar
* Mustasyar NU Sulsel
* Ketua Forum Antar-Agama Sulsel

BIDANG OLAHRAGA
* 1980-1990 : Ketua PSM Makassar
* 1985-1992 : Ketua Klub Sepak Bola Makassar Utama
* 1980-1990 : Bendahara PERBAKIN Sulawesi Selatan

BIDANG ORGANISASI MAHASISWA
* 1964-1966 : Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNHAS Makassar
* 1965-1966 : Ketua Umum HMI Cabang Makassar
* 1966-1968 : Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Sulawesi Selatan

BIDANG ORGANISASI PROFESI
* 1985-1997 : Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Selatan
* 1997-2002 : Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia
* 1985-1995 : Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulawesi Selatan
* 1987-2000 : Wakil Ketua ISEI Pusat
* 2000-Sekarang : Penasehat ISEI Pusat
* 1990-Sekarang : Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Hasanudin, Makassar.
* 1987-1992 : Anggota MPR RI (Anggota Badan Pekerja) - Utusan Golkar
* 1992-1997 : Anggota MPR RI (Anggota Badan Pekerja) - Utusan Daerah
* 1997-1999 : Anggota MPR RI (Anggota Badan Pekerja) - Utusan Daerah

BIDANG DUNIA USAHA
* 1969-2001 : Direktur Utama NV. Hadji Kalla
* 1969-2001 : Direktur Utama PT. Bumi Karsa
* 1988-2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama
* 1988-2001 : Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama
* 1988-2001 : Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa
* 1995-2001 : Komisaris Utama PT Bukaka Siagtel International

BIDANG SOSIAL/PENDIDIKAN

* 1982-Sekarang : Ketua Umum Yayasan Pendidikan Hadji Kalla
* 1990-Sekarang : Ketua Umum Yayasan pendidikan Al-Gozali Universitas Islam Makassar
* 1975-1995 : Ketua Yayasan Badan Wakaf Universitas Muslim Indonesia, Makassar
* 1975-Sekarang : Ketua Perguruan islam Dutumuseng, Makassar
* 1980-Sekarang :
* Anggota Dewan Penyantun Universitas Hasanudin,
* Anggota Dewan Penyantun IAIN Makassa,
* Anggota Dewan Penyantun UNM/IKIP Makassar.
* 2002-Sekarang : Anggota Wali Amanat IPB-Bogor.
* 2006-Sekarang : Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Paramadina
Back to top